Jumat, 28 November 2014

IDENTIFIKASI MODEL LINEAR PARAMETER VARIYING (LPV) PADA SEKSI PRIMARY REFORMER PABRIK AMONIAK UNTUK SIMULATOR PELATIHAN OPERATOR



IDENTIFIKASI MODEL LINEAR PARAMETER VARIYING (LPV) PADA SEKSI PRIMARY REFORMER PABRIK AMONIAK UNTUK SIMULATOR PELATIHAN OPERATOR
LINEAR PARAMETER VARIYING (LPV) MODEL IDENTIFICATION ON PRIMARY REFORMER SECTION OF AMONIA PLANT FOR OPERATOR TRAINING SIMULATOR
Master Theses from JBPTITBPP / 2008-05-09 18:38:41
Oleh : HERI SUBAGIYO (NIM 23205018), Central Library Institute Technology Bandung
Dibuat : 2008, dengan 1 file

Keyword : identification, linear parameter variying (LPV) model, recursive least square (RLS), primary reformer,operator training simulator
Pemodelan atau identifikasi sistem merupakan proses untuk mendapatkan representasi (model) matematis yang menunjukkan perilaku dari suatu sistem fisik atau proses kimiawi tertentu. Pendekatan pemodelan yang dipakai pada tesis ini adalah pemodelan empiris, dimana model dibangun menggunakan data empiris. Penelitian sebelumnya pada bidang ini menggunakan model Linier Time Invariant (LTI). Hasil simulasi menunjukkan bahwa simulasi untuk operasi start up belum berhasil dilakukan. Oleh karrena itu, pada tesis ini digunakan model Linear Parameter Variying (LPV) agar dapat meliputi perubahan kondisi operasi pabrik, seperti start up, normal, dan shutdown. Plant proses yang dijadikan rujukan adalah seksi primary reformer pabrik amoniak, PT. PKT. Algoritma yang digunakan dalam proses identifikasi adalah Recursive Least Square (RLS) dengan fungsi parameter P(k)=sin(0,0001*k). Data diambilkan dari data historian DCS. Hasil identifikasi disimulasikan dan divalidasi dengan data lapangan. Model prose yang diperoleh dengan cara menunjukkan hasil yang baik dengan rata-rata fit 90,42%. Sedangkan rata-rata Loss Function, Final Prediction Error (FPE), dan Akaike Information Criterion (AIC) adalah 0,01, 1,01, and -4,96.


Model proses selanjutnya diimplemetasikan pada mesin simulasi Simulator Pelatihan Operator (OTS) menggunakan perangkat lunak Scilab/Scicos. OTS disimulasikan secara dinamis untuk skenario pelatihan strat up, normal, dan shutdown. Hasil simulasi menunjukkan bahwa indikasi-indikasi variabel proses secara umum dapat diterima. Prosedur pembuatan model dan implemetasi pada tesis ini dapat digunakan untuk seksi lain pabrik amoniak. Untuk pengembangan lebih lanjut perlu penelitian lebih lanjut tentang penentuan fungsi parameter secara lebih sistematis.

IDENTIFIKASI DAYA TARIK INVESTASI DIKAWASAN INDUSTRI KOTA SAMARINDA



IDENTIFIKASI DAYA TARIK INVESTASI DIKAWASAN INDUSTRI KOTA SAMARINDA
Master Theses from / 2005-10-12 12:08:31
Oleh : Eko Restu Minto, S2 - MBA-Technology
Dibuat : 2002-00-00, dengan 1 file

Keyword : To develop the economic development, especially for the investment in industrial sector, either domestic or foreign investors
Nomor Panggil (DDC) : T. 658.401.2 MIN
Sumber pengambilan dokumen : 20050293
Krisis moneter tahun 1997 yang berkembang menjadi krisis multidimensi yang berkepanjangan menyebabkan menurunnya tingkat investasi sektor perindustrian. Pembangunan kawasan industri merupakan salah satu cara untuk meningkatkan pembangunan ekonomi, khususnya investasi sektor industri balk investor domestik maupun asing, oleh karena perencanaan pengambilan keputusan strategis kawasan industri hams tnelibatkan semis pihak terkait dalam kerangka pemanfaatan tata ruang yang telah direncanakan. Faktor penyebab melemahnya tinerat investasi khususnya disektor perindustrian dicari dengan mengimplementasikan diamond system dari E. Porter, sedangkan penentuan bobot menggunakan Model Analytical Hierarchi Proces (AHP). Dari sudut pandang investor urutan bobot days tank investasi di kawasan industri Kota Samarinda adalah : (1) Urutan Panama, Kondisi Faktor-Faktor Produksi dengan bobot 0,579, (2) Urutan Kedua, Industri Terkait dan Pendukung dengan bobot 0,196, (3) Urutan Ketiga, Kondisi Permintaan Domestik dengan bobot 0,117, (4) Urutan Keempat, Strategi Struktur dan Persaingan dengan bobot 0,108. Untuk kondisi faktor-faktor produksi urutan prioritas pembangunan dan pengembangan sub kriterianya adalah : (1) Sumber Daya Alam dengan bobot 0,342, (2) Tenaga Kerja dengan bobot 0,101, (3) Sarana P r r dengan bobot 0,096 dan (4) Lokasiti'ata Ruang dengan bobot 0,040. Untuk Industri Terkait Pendukung urutan prioritas pembangunan dan pengembangan, sub kriterianya adalah (1) Adanya Industri Komponen Produk dengan bobot 0,196, (2) Tersedianya Mesin Produksi dengan bobot 0,112 dan (3) Adanya Iasa Pendukung 0,024. Untuk Industri Permintaan Domestik urutan prioritas pembangunan dan pengembangan sub kriterianya adalah (1) Kualitas dengan bobot 0,060, (2) Kuantitas dengan bobot 0,042 dan (3) Harga dengan bobot 0,015.Sedangkan untuk Strategi Struktur dan Persaingan prioritas pembangunan dan pengembangan sub kriterianya adalah (1) Kondisi Pemerintah Pusat dengan bobot 0,048, (2) Kondisi Pemerintah Daerah dengan bobot 0,026, (3) Organisasi Manajemen Perusahaan dengan bobot 0,018, (4) Persaingan Domestik dengan bobot 0,015. Dari basil pengolahan data dan pembahasan direkomendasikan bahwa : A. Didalam mengembangkan dan memantapkan kawasan industri agar dapat menarik investor, pemerintah daerah betul-betul menerapkan skala prioritas yang tersusun yaitu (1) Kondisi Faktor-Faktor Produksi (2) Industri Terkait dan Pendukung (3) Kondisi Pennintaan Domestik dan (4) Strategi Struktur dan Persaingan. B. Pemerintah Daerah dituntut bagaimana secepatnya mewujudkan perra;rintah yang bersih, transparan dan profesional serta pemerinta6 yang melayani rakyatnya sehingga business condusife climate khususnya dibidang industri bisa terbentuk dan merangsang investasi


PERANCANGAN SISTEM KONTROL TORSI
PADA MOTOR LNDUKSI 3 FASA DENGAN UMPAN BALIK NONLINIER
Master Theses from JBPTITBPP / 2007-03-14 16:02:16
Oleh : Dany Setiawan, PROGRAM STUDI INSTRUMENTASI DAN KONTROL, PROGRAM PASCASARJANA ITB
Dibuat : 2001-00-00, dengan 1 file

Keyword : torque producing, rotor magnetizing, designed controlling,
Pemakaian motor induksi sebagai mesin penggerak saat ini
semakin meluas seining dengan kemajuan yang pesat dalam bidang
mikroprosessor dan elektronika daya. Kemajuan tersebut menyebabkan
pengontrolan yang sulit pada motor induksi akibat adanya penyatuan
(coupling) antara komponen arus pembangkit fluks dan torsi dapat
diatasi.
Dalam penelitian ini dilakukan pengontrolan torsi motor
induksi tiga fasa menggunakan konsep vektor kontrol dengan kerangka
acuan arus magnetik rotor untuk memisahkan (decoupling) arus
pembangkit fluksi (I,X ) dan arus pembangkit torsi (hy) dengan cara
mentransformasikan variabel-variabel tiga fasa ( tegangan dan anus)
pada motor induksi menjadi variabel-variabel dengan dua sumbu
koordinat. Pemisahan ini mengacu pada motor DC yang telah terpisah
antara arus pembangkit fluksi dan pembangkit torsi.
Metoda linierisasi masukkan-keluaran (Input-output
limerization) kemudian digunakan untuk memperoleh pengontrol bagi
sistem nonlinier sehingga memungkinkan perancangan umpanbalik
keadaan nonlinier untuk mengontrol sistem sebagaimana halnya
dilakukan untuk sistem linier.
Dari hasil simulasi pengontrolan torsi dan arcs magnetik rotor
motor induksi tiga fasa (5 Hp, 1 pasangan pole, 60 Hz, 208 V, 21 A)
menggunakan pengontrol P dan P+D diketahui bahwa motor mampu
mencapai harga torsi dan arus magnetik rotor yang ditetapkan ( setpoint)
dengan overshoot 0%. Selain itu perubahan parameter tahanan
rotor (Rr) menjadi 0.115 fl (6.5 %) dan induktansi magnetik (Lm)
menjadi 0.044 H (2 %) tidak mempengaruhi pengontrolan yang
dirancang (tidak sensitif terhadap perubahan parameter).

Minggu, 23 November 2014



PEMODELAN MESIN BUBUT CERDAS
Smart Lathe Modeling
Undergraduate Theses from JBPTITBPP / 2008-07-04 16:47:35
Oleh : LINDUNG PARINGOTAN MANIK (NIM 13103019), S1 - Department of Mechanical Engineering
Dibuat : 2008, dengan 7 file

Keyword : mesin bubut, manufaktur
Seiring dengan kemajuan zaman, industri manufaktur menghadapi tuntutan pasar yang semakin dinamis dan persaingan yang semakin ketat. Produksi dengan banyak variasi dan jumlah produk setiap varian yang sedikit sulit dilakukan. Tuntutan yang demikian hanya dapat dipenuhi jika suatu industri menguasai teknologi dan sistem informasi produksi. Sistem Produksi Terdistribusi Mandiri (SPTM) merupakan salah satu sistem manufaktur dimana setiap bagiannya mampu bekerjasama dengan baik. Salah satu mesin perkakas yang terdapat dalam SPTM adalah mesin bubut. Mesin bubut dapat dipergunakan untuk aplikasi yang sangat luas. Untuk itu diperlukan kemampuan yang cukup tinggi untuk menguasai elemen-elemen yang terdapat dalam mesin bubut. Dengan adanya suatu model mesin bubut yang cerdas, maka perencanaaan proses di mesin bubut akan konsisten, seragam, optimum, cepat dan tepat tanpa mengesampingkan kualitas produk. Pemodelan mesin bubut cerdas ini menggunakan metode berorientasi obyek dimana metode ini berusaha untuk membuat model obyek secara natural sesuai dengan sifat sebenarnya. Model mesin bubut cerdas dirancang terdiri atas modul-modul sebagai berikut: pengelolaan data workshop, pengelolaan data mesin perkakas, pengelolaan data pemesinan, dan pengelolaan data kelengkapan perkakas potong. Dengan adanya modul-modul ini diharapkan sistem ini memiliki kecerdasan-kecerdasan sebagai berikut: memiliki fungsi pengelolaan data seperti penambahan, pengubahan, dan penghapusan data; memiliki fungsi pemilihan alternatif tool set; memiliki fungsi pemilihan parameter operasi; dan memiliki fungsi penghitungan ongkos pemesinan.



PERANCANGAN DAN IMPLEMENTASI METODA PEMBELAJARAN PEMBUBUTAN MENGGUNAKAN SIMULATOR 3D MESIN BUBUT CNC ET-242
DESIGN AND IMPLEMENTATION OF TURING LEARNING METHOD WITH CNC LATHE 3D SIMULATOR ET-242
Master Theses from JBPTITBPP / 2014-08-05 14:04:02
Oleh : ARIEF FAHROZY FEBRIANTO (NIM : 23208322); Pembimbing I : Dr. Ir. Arief Syaichu Rohman; Pembimbing II : Dr. Ir. Yoga Priyana, S2 - Electrical Engineering
Dibuat : 2010, dengan 7 file

Keyword : simulator 3D mesin bubut CNC, metoda pembelajaran, kompetensi pemesinan, parameter G-code, parameter permesinan, control panel.
Pendidikan kejuruan di bidang keahlian teknik mesin telah memasukkan mesin CNC sebagai salah satu materi pembelajaran yang harus ditempuh dalam kompetensi kejuruan. Kajian pada penggunaan metoda pembelajaran sangat diperlukan guna mengetahui efektifitas suatu metoda pembelajaran mesin CNC. Pada penulisan tesis ini akan dibahas perancangan metoda pembelajaran menggunakan simulator 3D mesin bubut CNC ET-242.

Perancangan metoda pembelajaran simulator 3D mesin bubut CNC adalah sebagai berikut: melakukan studi literatur tentang Standar Kompetensi Kompetensi Dasar (SKKD) pada kurikulum keahlian teknik pemesinan SMK, analisis kebutuhan pembelajaran, dan menentukan metoda pembelajaran yang tepat dalam penggunaan simulator 3D mesin bubut CNC. Tahap selanjutnya adalah mengimplementasikan rancangan metoda pada pembelajaran, dengan hasil implementasi sebagai berikut: pre-test, metoda 1 dan evaluasinya, refleksi hasil sementara, metoda 2 dan evaluasinya. Metoda 1 menggunakan urutan pengenalan control panel kemudian pengenalan dan penggunaan parameter G-code maupun permesinan pada simulator, sedangkan metoda 2 adalah sebaliknya.

Hasil uji awal metoda pembelajaran pembubutan menggunakan simulator 3D mesin bubut CNC menunjukkan bahwa rata-rata prosentase peningkatan kemampuan siswa dari pre-test sampai dengan setelah penerapan metoda pembelajaran 1 adalah 20%. Sementara itu, rata-rata prosentase peningkatan kemampuan siswa adalah 40% jika metoda 2 yang digunakan. Sedangkan rata-rata kemampuan siswa pada penggunaan metoda 2 adalah 12,5% lebih tinggi dibandingkan terhadap penggunaan metoda 1. Dari hasil data uji awal metoda pembelajaran pembubutan dengan simulator 3D mesin bubut CNC ET-24 disimpulkan, bahwa metoda yang tepat digunakan adalah metoda 2.